Kejahatan Bank Sulit Dicegah


REPUBLIKA.CO.ID

Tak ada yang mampu menafsir kedalaman pikiran dan hati seseorang. Inilah dilema yang dihadapi industri perbankan saat menjumpai kasus kejahatan perbankan (fraud). Oknum pegawai sewaktu-waktu bisa berkhianat dan membobol bank.

Kasus pembobolan Citibank hingga Rp 17 miliar membuktikan sintesa tersebut. Seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun mengabdi akhirnya jadi musuh dalam selimut. Begitu juga usaha pembobolan BNI sebesar 4 Miliar yang baru-baru ini dilaporkan. “Kejahatan bank yang dilakukan oleh orang dalam sangat sulit dideteksi,” tutur Direktur Utama BRI, Sofyan Basyir.

Menurutnya, secanggih apapun sistem pengawasan dan keamanan yang dilakukan tidak akan berguna bila orang-orang di dalamnya nakal. “Kami punya 75 ribu orang pegawai dan 7 ribu kantor. Begitu banyaknya, hingga kami tidak mampu mengawasinya satu-per satu,” katanya. Hal ini menurutnya, tak hanya dihadapi oleh BRI, namun juga bank-bank lain di Indonesia. “Tak ada yang akan bisa benar-benar bisa terhindar dari kejahatan semacam ini,” katanya.

Meskipun demikian, bukan berarti bank tidak bisa meminimalkan resiko. “Di BRI kami selalu pastikan fungsi auditor berjalan dengan baik,” katanya. Menurutnya, demi memperkokoh fungsi pengawasan, BRI mendirikan residen auditor di setiap kantor cabang BRI. “Mereka akan pastikan semua transaksi keuangan di dalam dan ke luar BRI berjalan dengan seharusnya,” katanya. Bahwa setiap perubahan angka sekecil apapun pada pos-pos transaksi keuangan tertentu akan terdeteksi segera.

Peningkatan sistem pengawasan dan keamanan akan menimbulkan konsekuensi biaya operasional yang tidak sedikit. “Namun ini sudah menjadi pilihan BRI. Bagaimanapun kami harus menjamin keamanan dana nasabah,” katanya. Menurutnya, aturan Bank Indonesia tentang pegawasan perbankan sudah sangat jelas. “Kami harus menjalankannya,” tuturnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Bank Negara Indonesia (BNI), Gatot Suwondo. Menurutnya, secanggih apapun, seberlapis apapun sistem keamanan dan pengawasan yang dibuat pasti ada kelemahannya. Lalu bisa diterabas oleh oknum bank yang nakal. “Namun jangan mengeneralisir. Dari ribuan orang bankir yang ada di BNI mungkin hanya 1 atau dua orang saja yang nakal,” katanya.

Oleh karena itu, BNI sistem rekruitmen tenaga kerja akan terus diperketat. “Kami selalu melakukan tukar menukar informasi terkait seorang pegawai. Kami akan kaji track record-nya sebelum benar-benar diterima di institusi ini,” katanya. Bila dia adalah seorang fresh graduate, maka BNI akan memastikan pencapaian akademisnya saat di universitas. “Dengan demikian akan tersaring orang-orang terpilih yang memiliki integritas,” katanya.

Meskipun demikian, menurutnya, sebuah kasus kejahatan bank tidak bisa menjadi tanggung jawab bank semata. “Nasabah pun harus berhati-hati,” katanya. Seorang nasabah boleh saja dekat dan percaya dengan seorang pegawai bank. “Namun tetap harus pasang mata, siapa tahu di kemudian hari mereka bisa menyerang si nasabah,” katanya. Oleh karena itu, dia menyarankan agar nasabah jangan asal menandatangani cek ataupun surat transaksi kosong apapun. “Ikuti saja prosedur bank dengan baik,” katanya.

Sementara Bank Mandiri menerapkan tiga lapis pengawasan mulai dari cabang, kantor wilayah, dan melalui internal audit untuk menghindari kejahatan perbankan. ”Dengan tiga lapis pencegahan ini, kami rasa sudah maksima untuk memberikan jaminan kepada nasabah,” ujar Direktur Utama Mandiri, Zulkifli Zaini.

Hal senada juga diutarakan Direktur Mikro Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin menyatakan, kian hari transaksi keuangan semakin besar. “Yang namanya tindakan kriminal akan kita hadapi dan ada,” ujarnya. Selain fisik, kejahatan perbankan juga muncul di elektronik. ”Fraud juga banyak terjadi di kartu kredit,” katanya. Karenanya, ke depan Mandiri bersama dua bank lainnya, BCA dan Permata, bakal membuat kartu chip yang menggabungkan kartu kredit dan debit untuk mencegah ini terjadi.

Pengamat Perbankan, Fauzi Ikhsan menyatakan, industri perbankan sangat beresiko tinggi. Kemungkinan terjadi pembobolan oleh oknum pegawai sangat besar. Dia mencontohkan pembobolan uang yang dilakukan oleh seorang pegawai Bank of England beberapa waktu lalu. “Bank itu kurang canggih apalagi pengamanannya, tapi tetap saja bisa ditembus,” katanya.

Menurutnya, bank tersebut kebobolan akibat oleh pegawainya yang bertugas membakar uang kertas lama Inggris. “Setiap hari dia selipkan beberapa uang kertas ke celana dalamnya. Sehingga tidak ada petugas keamanan yang tahu,” katanya. Kasus tersebut terungkap ketika si pegawai membeli sebuah rumah dengan menggunakan uang tersebut.

Fauzi menambahkan, unit bisnis bank yang paling rentan mengalami fraud adalah ritel banking. “Dulu ada penyelewengan LC BNI. Kasus Bapindo oleh Edi Tanzil, dan Bank century,” katanya. Sehingga untuk menghindari resiko tersebut, bank harus menyusun manajemen resiko yang kuat. “Caranya patuhi Basel 2 dan rambu-rambu perbankan lainnya,” tuturnya.

Sayangnya, sistem hukum perbankan Indonesia belum begitu baik. “Kalau ada ada Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  pengawasan bank mungkin akan lebih baik,” katanya. Namun sejauh ini, pengawasan yang dilakukan BI menurutnya, sudah lebih bagus. “Sekarang memang terlalu banyak regulasi. Tetapi semua itu kan supaya mencegah krisis,” katanya.

2 Comments

Filed under Fraud and Corruption

2 responses to “Kejahatan Bank Sulit Dicegah

  1. gak ada yang sulit jika kita berusaha semampu kita mungkin…
    teruslah semangat untuk mencegah kejahatan bank,,
    karena banyak yang begitukan
    jadinya berkurang orang yang menabung di bank…

  2. widia

    Saya melakukan pinjaman kur bri di kantor unit bri ciracas sebesar 15 juta
    rupiah lewat petugas bri yang ditunjuk saudari yenni yaitu saudara ari.
    Namun pinjaman ini bukan saya sendiri yang memakai melainkan dipinjam
    saudari yenni yunita mantri briguna bri unit ciracas. Adapapun pinjaman ini
    tanpa melalui jalan survei dan langsung disetujui namun pada perjalanan
    saudari yenni tidak mengembalikan uang yg kami pinjam bersama dengan nama
    saya di bri. Saya sudah mengingatkan agar saudari yenni mengembalikan dan
    terpaksa saya harus menempuh jalur hukum Sebab dana tersebut juga ditengarai untuk mengugurkan kandungan saudari yenni hasil hubungan gelap dengan pacarnya ini pun bukan kali pertama dimana ibu yenni meminjam untuk mengugurkan kandungan dimana sudah terjadi 3 kali bahkan lebih mengugurkan kandungan. meski saya pun akan terkena
    akibatnya. Namun jika saya harus melunasi sendiri saya tidak mampu. Adapun
    data Saudari yenni yunita mantri bri kantor unit ciracas dan nomor Rekening
    pinjaman 0949.01.008078.10.0 an widia dwimurti untuk mengecek kebenaran
    tersebut. Sungguh saya kecewa dengab tanggapan bri yang terkesan membiarkan
    kasus ini berlarut larut. Dan saudari yenni malah berbalik mengancam saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s