Bagaimana Manipulasi Harga Saham Dilakukan


Membaca berita tentang broker nakal bikin gemes aja. Gimana enggak, di tengah kondisi bursa global yang mengalami kejatuhan karena krisis finansial kredit Amerika, ada saja pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dengan menghalalkan segala cara.

Gejala kejatuhan bursa global bukan sekali ini saja terjadi. Di tahun 1929, ada ‘Wall Street Crash’ yang merupakan salah satu kehancuran paling dahsyat dalam sejarah bursa dunia. Pada waktu itu terjadi booming investasi di bursa saham Amerika. Booming tsb didukung juga oleh para pialang yang meminjamkan dana pada para investor untuk membeli saham, istilahnya margin trading.

Bencana berawal dengan isu-isu yang dihembuskan oleh para analis dan spekulan untuk ‘menggoreng’ saham, dimana harga saham didorong melambung tinggi tanpa diikuti dengan pertumbuhan fundamental perusahaan emiten.¬† Akibatnya terjadilah ‘economic bubble’ , tinggal tunggu waktu meletusnya aja.

Di tahun 1929 itu, dalam rentang waktu sekitar sebulan, terjadi koreksi Dow Jones Industrial Average (DJIA) sebesar 42%. Termasuk di dalamnya adalah peristiwa ‘Black Thursday’ (24 Oktober 1929 dimana DJIA jatuh 13%) dan ‘Black Tuesday’ (29 Oktober 1929 dimana DJIA jatuh 12%).

Total kerugian investor AS disebabkan ‘Wall Street Crash’ mencapai 30 miliar dollar AS. Angka itu jauh melebihi biaya yang dikeluarkan AS untuk Perang Dunia II. Runtuhnya Wall Street dianggap sebagai gejala, bahkan penyebab, terjadinya Great Depression AS tahun 1929-1938.

Para analis menyatakan bahwa runtuhnya Wall Street tahun 1929 tersebut banyak disebabkan karena transaksi short selling yang dilakukan oleh para spekulan. Cara kerja short selling kurang lebih seperti ini:

  1. Spekulan meminjam saham dari pialang/broker
  2. Spekulan menjual ‘kontrak’ harga saham pada level tertentu (harga masih tinggi)
  3. Sentimen negatif atau isu-isu dihembuskan agar harga saham tersebut jatuh
  4. Spekulan kemudian memborong saham dengan harga yang sudah jatuh, namun dapat menjualnya dengan harga ‘kontrak’ yang masih tinggi, sehingga mendapatkan margin keuntungan
  5. Spekulan mengembalikan saham kepada pialang/broker

Transaksi short selling ini juga ikut menyebabkan peristiwa ‘black monday’ (19 Oktober 1987, dimana DJIA turun 22% dalam sehari) dan krisis dotcom (tahun 2000-2002, dimana Nasdaq turun 78%).

Berikut gambar skema ‘permainan kotor’ di bursa saham:

(gambar diambil dari kompas)

Kalo memang sebegitu besar dampak dari short selling, kenapa kok nggak dilarang saja seterusnya? Well, ini isu yang masih kontroversial. Seperti diulas di sini atau di situ, bahwa transaksi short selling dalam kondisi pasar saham yang normal bermanfaat untuk:

  1. Mendorong bursa menjadi lebih atraktif sehingga likuiditas pasar meningkat
  2. Dapat dimanfaatkan untuk tujuan hedging (lindung nilai) terhadap potensi penurunan harga saham

Mengenai short selling, awalnya otoritas bursa di Amerika, Inggris, Jerman dan Irlandia melarangnya dalam situasi krisis finansial saat ini. Tetapi setelah UU Penyelamatan Ekonomi AS/bailout senilai US$ 700 miliar ditandatangani, bursa Amerika mencabut larangan tersebut. Bursa efek Indonesia sendiri, sejak Oktober 2008 melarang transaksi short selling (sampai tanggal postingan ini).

Leave a comment

Filed under Fraud and Corruption

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s